Masa sekolah adalah masa
favorit kebanyakan orang,
setuju?! Cinta monyet, bolos
sekolah, dan berbagai
kenakalan masa remaja/
dewasa lainnya adalah salah
satu momen yang seru dan
ngga terlupakan. Di masa ini
pula seringkali kita
menemukan teman-teman
yang akrab dengan masalah,
terutama karena kenakalan-
kenakalan yang ia buat. Ngga
cuma dengan teman-teman
lainnya, bahkan guru dan juga
dirinya sendiri.
Maka ngga jarang “anak-anak
nakal ini” sering kita
simpulkan sebagai orang-
orang yang Madesu alias masa
depannya suram. Boro-boro
belajar dan ngerjain PR,
kadang buku dalam tas pun
cuma bawa satu. Sehari-
harinya cuma bikin ribut
suasana kelas, nge-geng,
ngejailin orang, dan kelakuan
nakal lainnya. Jadi ngga heran
kalau nilai-nilai mereka di
rapot hampir merah semua.
Tapi pernahkah kemudian
Anda menemukan kembali
teman-teman ini setelah
sekian tahun terlewati dan
ternyata dalam kondisi yang
berbeda dari apa yang
dilakukannya di masa sekolah
dulu? Mereka ngga cuma
bekerja, tapi jadi pengusaha
(entrepreneur) bahkan punya
perusahaan sendiri.
Seperti pernah suatu waktu
saya ketemu seorang teman
saya yang dulunya nakalnya
bukan main, tiap bulan entah 1
atau 2 kali pasti sempat
“nongkrong” di ruang BP. “Di
mana (kerja) sekarang?” saya
mulai percakapan. “Gue jualan
sepatu sekarang. Produksi
sendiri. Main dong ke kantor
gue!” jawabnya, sebuah
tawaran menarik sekaligus
miris. Ya, saat itu saya heran
bukan main, orang yang
dulunya nakal kok sekarang
bisa kepikiran jadi pengusaha
ya?! Pepatah ”Don’t judge
book by its cover” benar-benar
sakti ya!
Saat itu saya seolah-olah ngga
terima kondisi mereka yang
ibaratnya jadi bos di
perusahaan sendiri. Sementara
banyak orang lain yang
(meskipun) punya jabatan
tinggi tapi tetap aja kerja di
perusahaan orang lho
statusnya. Prestigenya kalah
dengan mereka yang punya
usaha sendiri. Ingat! Sekarang
bukan zamannya lagi
membanggakan diri karena
bisa bekerja di perusahaan
BUMN atau sebagai
PNS. Sekarang zamannya
penghasilan ngga berbatas
dengan waktu yang lebih
leluasa. Ya jadi entrepreneur
caranya.
Mungkin dulu kita sangat
percaya bahwa dengan kerja
keras, semua hal mudah
dicapai. Memang betul, kerja
keras menjadi dasarnya tapi
melihat mereka yang
sekarang sukses padahal
dulunya ngga mencerminkan
itu (nakal), kadang bikin kita
merasa dicurangi. “Tuhan
ngga adil!” gitu kira-kira
bahasa lebaynya. Capek-capek
belajar dan berprestasi dari
kecil tapi masih aja kerja buat
orang lain.
Ada ungkapan menarik dari
Jaya Setiabudi di bukunya The
Power of Kepepet yang senada
dengan kondisi tersebut
sekaligus menjadi cambuk
buat saya sendiri; “Lebih baik
kecil jadi bos daripada gede
jadi kuli. Kuli, ngga kerja ngga
dapat makan. Kalau bos, ngga
kerja pun dapat makan.”.
Semakin maju zaman, semakin
maju pula pemikiran kita.
Kerja keras sebagai sebuah
standar kerja kemudian
melebur menjadi kerja cerdas.
Sebuah pola kerja yang
memadukan kemampuan fisik
dengan kemampuan/
kepintaran seseorang dalam
melihat peluang. Latar
belakang pendidikan dan
pengalaman menjadi penting
dalam hal ini. Bisa dibilang,
orang-orang yang punya
prestasi dan pengalaman baik
akan mendapatkan tempatnya
dengan pola kerja seperti ini.
Tapi kemudian hal ini
dipatahkan saat orang-orang
yang ngga kita perhitungkan
mulai terjun di kerasnya
persaingan usaha. Bukan kerja
keras dan kerja cerdas saja
yang mereka bawa, lebih dari
itu mereka menerapkan pola
kerja kreatif. Begitulah saya
menamakannya. Pola kerja
inilah yang menjadi dasar dari
si “anak-anak nakal” tersebut.
Dengan pola kerja kreatif
mereka ngga sekadar bisa
melihat peluang, lebih dari itu
mereka menciptakan peluang!
Apalagi dengan tools dan
media yang terus tumbuh
seperti social media dan
gadget, yang sekarang ini
ibarat sebuah platform baru
dalam dunia bisnis.
Fenomenanya bisa kita
rasakan sendiri, saat akun
twitter @infobdg atau yang
sejenisnya kini menjadi sumber
berita yang lebih dipercaya
(berdasarkan jumlah
followersnya) banyak orang
Bandung atau oleh orang-
orang yang punya ketertarikan
dengan Bandung. Coba cek
deh di twitter antara akun @
infobdg dan @pikiran_rakyat!
Perhatikan jumlah
followersnya, Anda mungkin
terkejut dengan temuan ini!
Kita juga bisa bercermin dari
Ma Icih, yang notabene cuma
keripik pedas, yang sebetulnya
bukan barang baru di Bandung
bahkan di Indonesia. Tapi sejak
kemunculannya, keripik pedas-
keripik pedas lainnya ibarat
biji jagung jadi pop corn,
meletup-letup keluar dari
wadahnya dengan berbagai
label. Bukan cuma itu, cara
jualan Ma Icih pun menjadi
standar bagi keripik-keripik
pengikutnya. Sebuah channel
distribution yang keluar dari
jalur mainstream, yang
membuat produk menjadi
lebih eksklusif karena dicari
banyak orang.
Begitulah orang-orang yang
bekerja dengan pola kerja
kreatif. Mereka melihat lebih
jauh sebuah peluang dengan
menciptakan peluang itu
sendiri. Pola pikir kreatif dan
inovasi yang dilakukan orang-
orang di belakangnya
menjadikan brand mereka
bukan sekadar dikenal tapi
menjadi fenomena.
Mengapa kemudian saya
katakan pola kerja kreatif ini
dimiliki oleh “anak-anak
nakal”? Berikut analisa yang
ingin saya bagi bersama,
mudah-mudahan berguna.
Risk-taking person
People said they were nuts. I
said, “They have guts!”. Buat
saya, mereka-mereka ini
bukan orang “gila” yang suka
membuat kehebohan dan
melakukan hal-hal diluar
perkiraan, mereka punya
nyali! Ya, nyali untuk
mencoba! Banyak orang yang
under estimate dengan
kemampuan mereka dan
menganggap yang mereka
lakukan itu modal nekat,
tanpa perhitungan. Tapi buat
mereka, ”Biar deh gue
dibilang nekat dan tanpa
perhitungan. Tapi gue ngga
lebih buruk daripada orang
yang ngga pernah mencoba
karena kebanyakan mikir.”
begitu timpal teman saya.
Banyak orang yang justru
berilmu tinggi menghabiskan
waktunya dengan berpikir,
memikirkan segala
kemungkinan yang ada.
Memang baik, tapi kalau ngga
jalan-jalan ya buat apa
dipikirin! Sementara “anak-
anak nakal” ini ngga peduli
gagal. Ini penting! Mereka
ngga takut gagal!
The Power of Kepepet
Mengutip judul bukunya Jaya
Setiabudi, “anak-anak nakal”
ini, karena tanpa rencana jelas
seringkali mengambil jalan
(keputusan) dalam kondisi
kepepet. Apakah buruk?
Nyatanya tidak. Dalam
buku The Power of Kepepet,
penulis mengungkapkan
kekuatan terpendam manusia
yang didasarkan pada kondisi
kepepet/ terdesak. Ingat saat
kita mau menghadapi ujian
sekolah? Entah kenapa kita
bisa menerapkan SKS alias
Sistem Kebut Semalam untuk
menghadapi ujian tersebut.
Otak mendadak encer
menangkap materi yang
dihapalkan, sampai-sampai
ngantuk dan capek pun
terkalahkan. Bandingkan
dengan kondisi biasa untuk
belajar, malasnya bukan main!
Begitupun dalam bisnis. Uang
pinjaman bank yang digunakan
sebagai modal adalah motivasi
lebih untuk bisa membayar
angsurannya karena jika tidak
dibayar barang kita yang
menjadi agunan bisa raib.
Beda kalau kita pakai uang
pinjaman dari orang tua,
keluarga, atau teman, karena
toleransinya bisa begitu besar,
sehingga keadaan ini tidak
menjadi motivasi tambahan
untuk kita bekerja lebih baik.
“Anak-anak nakal” ini
memang tanpa rencana, tapi
mereka menghadapinya.
Pergaulan/ Networking Luas
Ingat bagaimana “anak-anak
nakal” biasanya nge-geng?
Nongkrong rame-rame, kapan
saja, di mana saja. Kedekatan
mereka ini seringkali berada
pada tahap saling support
dalam banyak hal, termasuk
bisnis. Mereka juga terbuka
dengan orang baru alias tidak
membatasi pergaulannya.
Banyak orang yang langsung
menaruh curiga pada orang
baru. Wajar banget, tapi
dalam hal ini keterbukaan
menjadi modal kuat
menambah pergaulan. Mau
sukses? Eksis deh! Banyak
teman artinya peluang makin
terbuka lebar, karena pada
dasarnya ngga ada kesuksesan
yang bisa didapat karena
usaha sendiri melainkan
karena adanya dukungan
orang-orang di sekitar kita.
Spirit of Freedom
Pada dasarnya setiap anak
tidak ingin dikekang, tidak
suka aturan, oleh karena itu
mereka selalu berusaha
melepaskan diri dari hal-hal
semacam itu saat aturan
tersebut ada. Semangat
kebebasan yang membuat
pikiran mereka selalu lebih
hidup dibandingkan dengan
orang yang “terkotak-kotak”
karena sebuah aturan,
sehingga seringkali membuat
orang-orang ini ibarat jalan
ditempat karena takut salah
jika keluar/ berbeda dari
aturan yang ada.
Nah berdasarkan 4 hal ini pula
kita bisa sama-sama
mengambil simpulan bahwa
dengan membiasakan diri
berpikir seperti “anak-anak
nakal”, kita diajarkan untuk
tidak takut mengambil
langkah (keputusan). Bukan
dengan jadi nakal beneran lho!
Tapi mengiplementasikan pola
pikirnya saja. Jangan
membebani pikiran terlalu
ribet dalam ketakutan,
kekhawatiran, atau
kesempurnaan saat
menetapkan langkah, karena
semuanya semu dan ngga
akan pernah jadi nyata
sebelum kita mencoba dan
melewatinya. Just do it! Kalau
kata taglinenya Nike.
Tuesday, November 22, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)

